Tazkirah Untuk Diri Sendiri 1

25 06 2009

Tak sangka, dah masuk bulan Rejab rupanya sekarang ni… dah 2 hb Rejab dah pun ni. Cepat betul masa berlalu dan tinggalkan aku…

Semalam aku ada terima e-mail dari seorang kawan. E-mail renungan… sempena datangnya bulan Rejab. Aku ni bukanlah ahli / pakar hadis, tapi ada banyak pendapat mengatakan yang hadis2 yang dikemukakan berkaitan keutamaan bulan Rejab tu adalah palsu… Aku takut nak komen, cuma pendapat akulah :: kalau tak tau hujung pangkal, jangan memandai buat kesimpulan. Jangan pandai2 katakan sesuatu ungkapan tu hadis palsu kalau tak berguru betul2 ilmu hadis. Gitu gak kalau nak utarakan sesuatu ungkapan tu sebagai hadis, kena jelaskan sanad yang betul. Setahu aku, para ulama meneliti setiap sanad yang sampai kepada mereka dan bila syarat-syarat hadis shahih dan hasan terpenuhi, maka mereka menerima hadis tersebut sebagai hujjah, dan bila syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi, maka mereka menolaknya.

OKlah, ni aku ada link ke Blog Roudhah – KLIK SINI yang ada menceritakan Soal Puasa Bulan Rejab dan Kelebihan Rejab untuk pengetahuan buat diriku sendiri juga sesiapa yang berminat…

Berbalik kepada e-mail yang aku terima semalam tu, ni aku pastekan maklumatnya untuk renungan buat diriku juga…

Ini tentang kisah pemergian nabi kita diakhir hayatnya….

Raihan

Raihan

Assolatuwassalam – Raihan

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk? tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”

“Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril.

Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”

“Jangan khuatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan roh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

“Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

“Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyatnya maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku”. Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum – peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”

Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii,ummatii, ummatiii?” – “Umatku, umatku, umatku”.

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran. Kekasih Allah.. Manusia yang begitu agung peribadi dan akhlaknya.. pemimpin yang paling berjaya.. suami yang paling baik dan lembut dengan isterinya.. dan rasul yang begitu sayang pada umatnya..

Kini, mampukah kita ingat, hormat dan sayang kepadanya? Marilah kita perbanyakkanlah berselawat padanya.. Allahumma salli `ala muhammadin wa`ala ali muhammad, kama sallayta `ala ali ibrahim, wabarik `ala muhammadin wa`ala ali muhammad, kama barakta `ala ali ibrahim, fil-`alamin, innaka hamidun majid

Riwayat Al Baihaqi dan Al Khatib; Sabda Nabi Muhammad s.a.w. : “Barangsiapa berselawat kepadaku di sisi kuburku maka aku mendengarnya, barangsiapa berselawat kepadaku dari jauh, maka selawat itu diserahkan oleh seorang malaikat yang menyampaikan kepadaku dan ia dicukupi urusan keduniaan dan akhirat dan aku sebagai saksi dan pembela baginya. “


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: